Showing posts with label Biru. Show all posts
Showing posts with label Biru. Show all posts

22 February 2011

Kamu

0 comments

Aku ingin menari di tengah hujan. Biar air mataku menetes bersama dengan air hujan. Sehingga tidak ada yang melihatku menangis sendirian di sini. Tangisan yang sudah terlalu lama tertahan di dalam diri.

Di tengah hujan itu, aku berharap seseorang akan datang. Seseorang yang akan mengulurkan tangannya kepadaku, sambil berkata: Kamu boleh menangis sepuasmu, kalau mau, kamu boleh meminjam bahuku. Aku akan di sini bersamamu sampai kamu tenang, sampai semua kesedihanmu terhapuskan. Oh ya, kalau kamu kesal, kamu boleh memukulku. Apa saja, asal itu membuat hatimu lebih tenang , Seseorang yang akan memelukku sambil berkata: Tenanglah, ada aku di sini, aku akan selalu bersamamu, seseorang yang senyumannya dapat mengangkat semua bebanku.

11 February 2011

Surat dari Awan untuk Langit Biru

0 comments

Tiada yang lebih indah, tiada yang lebbih rindu, selain hatiku, andai engkau tahu..


Sudah satu bulan sejak aku bertemu dengannya. Saat itu aku memberikan kartu natal hasil karyakku untuknya. Rasanya sudah sangat lama, bahkan mungkin sepertinya ia sudah melupakan kejadian itu. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu berat untuk melupakan semua hal yang berkaitan dengannya. Aku terlalu jatuh cinta padanya. Aku. aku.. aku begitu sangat ingin memeluknya, mendekap tangannya dan menceritakan semua keluh kesahku kepadanya. Setiap malam aku terus mengingatnya, mungkin hanya sepintas di fikiranku, tapi terkadang aku memikirkan dirinya begitu lama, seperti malam ini. Saat aku begitu ingin berbicara dengannya mengenai semua cerita senang dan sedihku hari ini.

Tadi siang, aku bertemu dengannya. Kami berpapasan, bertukar pandang, sambil menganggukan kepala sebagai tanda kami saling menyapa. Aku berharap bisa berbicara lebih dengannya. Aku berharap ia tidak hanya sekedar memberikan anggukan kepalanya kepadaku, tapi juga menanyakan keadaanku.

Akhir-akhir ini aku berfikir, apa aku salah jatuh cinta padanya? Aku seorang yang begitu pemalu dan enggan untuk memulai terlebih dahulu, jatuh cinta dengan lelaki macam dia yang memiliki pembawaan dingin dan sama pendiamnya seperti aku. Bagaimana kami bisa saling mengenal apabila kami berdua tetap diam seribu kata? Seringkali aku membayangkan kalau aku dan dia bisa duduk bersama, membicarakan cerita hidup kami, bertukar fikiran mengenai masalah kami, atau hanya sekedar berada di satu ruangan berdua sambil sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.

Apa aku telah salah mencintai seseorang seperti dia? Apa aku salah telah berharap terlalu banyak dengannya? Mengapa sampai saat ini hanya ada aku, bukan kami?

22 November 2010

Pulang

0 comments
Musim kini berlalu berbagai cerita merayu
Berpijak di malam yang bertalu
masihku memikirkan dirimu

Ku rasakan waktu berlalu tanpa senyummu
Sepi yang tlah penuhi hariku

Hari ini sayang, aku akan pulang
berlabuh di dekap cintamu
Karna pelukmu akan slalu membuat diriku jatuh cinta

Dalam riuh suasana menyapa kian menggoda memanja
Semua itu tak akan berarti selama ku jauh dari dirimu

Ku angankan waktu berlalu dengan senyumu
Sepi yang tak penuhi hariku

Hari ini sayang, aku akan pulang
berlabuh di dekap cintamu
karna pelukmu akan slalu membuat diriku jatuh cinta

Pernahkah kau merasa berdiri di tempat yang sama
seperti saat ini ku ada
rindukan nyaman, ku ingin segera pulang

Hari ini sayang, aku akan pulang
berlabuh di dekap cintamu
karena pelukmu akan selalu membuat diriku jatuh cinta

(Andien, 2010)

16 November 2010

GoodBye, huh?

0 comments
Kebangun di waktu subuh sekitar jam3-4 bisa dibilang udah jadi kebiasaan gw. Biasanya karena gw pengen ke toilet dan biasanya lagi setelah itu gw ga bisa langsung tidur. Kalo ga bisa langsung tidur gitu, gw memilih untuk liat2 kira2 ada acara TV apa subuh gini.

Subuh ini gw terbangun jam 03.03. Setelah ke kamar mandi, gw ga tidur lagi. Gw memilih untuk nonton TV. Gw nonton Starworld dan saat itu lagi ada "Parenthood". Gw bukan fans dari serial ini, tapi ya karena ga ada acara lain yang menarik, gw memilih untuk nonton itu. Untungnya, apa yang diceritain di episode ini cukup menarik buat gw. Sebenernya sekitar jam setengah 4, gw udah ngantuk lagi, tapi gw inget kalo jam 4 nanti sepertinya ada "Ugly Betty". Gw suka nonton serial itu, tapi udah lama ga nonton karena kelupaan terus, dan kali ini gw ga mau kelewatan lagi. Akhirnya gw nonton Parenthood sampe abis terus lanjut nonton Ugly Betty. Gw suka nonton Ugly Betty bukan hanya karena ceritanya yang menarik, tapi juga salah satu karakternya yang bernama Matt, pacar Betty masuk kategori cowok cool di mata gw. Hahaha.

Episode hari ini sangat menarik menurut gw. Walaupun gw ga tau inti episode ini sampai gw nonton endingnya. Episode kali ini ternyata temanya "GoodBye". Ada 2 jenis goodbye yang diceritain. Pertama, Wilhemina, bos Betty yang gagal nikah karena ditinggal oleh pacarnya. Pacarnya dipenjara dan dia bohong sama Wilhemina dengan bilang lewat sipir penjara kalo pacarnya itu udah pindah penjara. Ini semua dilakukan sang pacar karena ia ga mau Wilhemina menderita kalo harus hidup sama dia di penjara. Ini semua bikin Wilhemina ngeraguin cinta pacarnya, padahal pacarnya ga bermaksud seperti itu.
Kedua, Betty yang harus ditinggal oleh Matt karena Matt mau pergi ke Afrika selama 6 bulan. Matt berniat pergi setelah baca blog Betty tentang aksi sosial seorang wanita yang pergi ke Afrika dan bantu orang-orang di sana. Dengan perkataan lain, Matt pergi karena Betty. Memang bukan maksud Betty untuk bikin Matt pergi, tapi Matt hanya terinspirasi oleh tulisan Betty. Awalnya, Betty merasa Matt tidak adil padanya, tapi Betty sadar kalo apa yang ia inginkan, tidak selamanya yang terbaik untuk Matt. Akhirnya, Betty merlakan Matt untuk ppergi ke Afrika.

Kenapa gw menulis tentang ini semua? Entahlah, gw sendiri ga tau pasti apa yang bikin gw nulis ini semua. Tapi saat gw melihat adegan perpisahan Betty dan Matt, gw menangis. reaksi yang spontan banget. Mungkin karena tema perpisahan yang ada di adegan itu gw rasa hampir cocok dengan keadaan gw. Memang sih, perpisahan yang gw rasain baru ketakutan gw aja, belum terjadi secara nyata, dan gw sangat tidak berharap itu terjadi nyata. Bulan ini, mr.blue terakhir bekerja di kampus. Dia akan melamar di salah satu LSM setelah kontrak kerjanya di kampus habis. Mungkin buat gw, ini menjadi ketakutan karena ketidakjelasan hubungan ini. Memang sih, gw atau dia belum pernah menyatakan secara langsung tentang perasaan kami, tapi yang pasti gw di sini berharap secepatnya kami saling bertemu dan membicarakan hal ini. Gw sendiri heran kenapa gw bisa seyakin ini dengan perasaan gw ini. Bisa dibilang gw sangat mengharapkan yang lebih dari hubungan yang sedang gw coba bangun ini. Dan kenyataannya, saat ini gw sedang menghitung detik-detik gw tidak bisa melihat dia lagi di kampus. Sedih membayangkannya, tapi semua temen gw bilang, kalo gw pasti akan bisa ketemu sama dia lagi. Dan gw terus menerus meyakinkan hal itu di dalam hati. Gw berusaha selalu menumbuhkan rasa ini, menjaga di dalam hati, menyimpan sampai nantinya kami bertemu dan saling berbicara mengenai hal ini. Gw berharap itu terjadi. Secepatnya.

12 August 2010

Cinta itu Gila

0 comments
Sekali ini aku jatuh cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya
bagaikan aku menemukan nyawa yang tlah hilang dari kehidupan

Cinta ini buat aku gila, sumpah begitu aku menggila
Dirimu... ku rela sanggup mati karnamu
Bagaimana aku tak menggila?
karena aku kehabisan kata tuk ungkap yang lebih dari cinta

Akulah yang paling sejati mencintaimu sampai akhir hidupku karena aku cinta matimu
Engkaulah yang paling mengerti bagaimana ku mencintaimu
Memang, sungguh cinta itu gila

Ku tak meminta apa-apa
hanya kita jalani saja dengan hati
karna hanya denganmu ku bisa
bahagiakan hidupku untuk slamanya

Akulah yang paling sejati mencintaimu sampai akhir hidupku karena aku cinta matimu
Engkaulah yang paling mengerti bagaimana ku mencintaimu
Memang, sungguh cinta itu gila

Cinta ini buat aku gila, sumpah begitu aku menggila
bagaimana aku tak menggila?
karna aku kehabisan kata tuk ungkapkan yang lebih dari cinta

Memang, sungguh cinta itu gila..

-Febrian-

3 August 2010

Biru (part 2)

0 comments
Mudah saja bagimu, mudah saja untukmu..
Andai saja cintamu seperti cintaku..
-Sheila On 7-

Dini masih tidak percaya dengan mimpinya semalam. Ia bermimpi menyatakan cintanya kepada sang pujaan hati, Octo. "Mimpi yang indah, namun mustahil", kata Dini dlam hati saat ia bangun. Semalam dalam mimpinya itu, Dini menyatakan perasaannya pada Octo di tempat mereka bertemu pertama kali. Sayangnya, Dini terbangun sebelum ada jawaban dari Octo. Dini kecewa. Walau hanya sebuah mimpi, namun Dini percaya apa yang terjadi di mimpi bisa saja terjadi di kehidupan nyata.

Sepanjang hari, Dini memikirkan mimpinya itu. Dan lagi-lagi di kelas ia tidak konsentrasi sehingga nilai kuis dadakannya tadi buruk sekali. Ah, Dini menghela nafas panjang. Ia terus memikirkan mimpinya, berfikir apakah baik jika mimpi itu jadi kenyataan. Mungkin itu baik untuknya mengingat ia sudah memendam rasa ini selama 2 tahun. Lama kelamaan ia merasa lelah karena hanya bisa terus menerus pasrah seperti ini, tidak bergerak.

Akhirnya ia menceritakan mimpi itu kepada teman-temannya. Dan reaksi mereka beragam.

"Wah, bukannya gw mau bikin lo putus asa ya..Tapi gw pernah denger katanya mimpi itu berkebalikan dari kenyaaan. Jadii, kalo lo mimpi begitu berarti... Ah, tapi ga tau juga deh", komentar Flo.

"Kalo menurut gw sih mimpi itu alam bawah sadar lo, jadi itu keinginan lo yang terbesar sekarang, lo pengen nyatain cinta ke Octo. nah, sekarang tinggal lo-nya aja mau gimana, mau ngewujudin mimpi atau ya begini-begini aja", pendapat Angel.

"Iya, makanya buruan deh lo nyatain perasaan lo ke dia, secara bentar lagi dia udah mau lulus, ga ada kesempatan lagi lho.." Via memotivasi Dini.

"Iya, din. Ntar lo nyesel kalo dia udah lulus trus lo ga punya kesempatan lagi"tambah Ina.

Dini memikirkan ucapan teman-temannya. Benar juga kata Via, sebentar lagi dia akan lulus. Entah kapan bisa bertemu lagi dengannya, itu pun kalau ia masih bisa bertemu.

Tiba-tiba Flo berkata sambil memberi tanda dengan mimik wajahnya,"Dini!"

Dini kaget, namun ia sudah bisa membaca arti perkataan Flo. Octo berdiri di depan ruang dosen, tampak baru keluar dari ruangan tersebut. Ruangan itu tidak jauh dari tempat mereka berkumpul sekarang, dan seharusnya Octo akan lewat di dekat mereka karena tempat mereka dekat dengan lift yang harus dinaiki Octo apabila ia mau turun dari lantai 5 ini. Hari ini ia mengenakan jaket biru dengan celana jins serta sepatu warna senada sambil membawa tas ranselnya. Benar saja, Octo berjalan ke arah mereka sambil menatap lurus ke depan atau ke samping. Saat Octo lewat di dekat mereka, Angel, teman Dini yang paling supel, menyapa Octo,"Koko Octo! hehehe..". Dan Octo hanya membalas sapaan itu dengan gerakan kepala dan sedikit senyum di wajahnya. Ya, sedikit sekali, bahkan wajahnya nyaris tanpa ekspresi.

Saat Octo telah masuk ke dalam lift, Dini berkata,"Astaga, dia ga punya jaket warna lain apa ya? Hari senin ama selasa kemaren juga dia pake jaket yang sama. Jangan-jangan punya banyak kali ya dia jaket model begitu?"

Mereka tertawa menyadari hal tersebut. Tiba-tiba Angel mengusulkan ide brilian."Ah, gw tau din.. Lo beliin jaket aja buat dia."

-to be continue-

14 June 2010

Biru

0 comments
Biru, biarkan diriku merengkuhmu
hanyutkan dirimu dalam cintaku
tersenyumlah untukku


Biru, indah dirimu hempaskan aku
jauh ku tenggelam dalam tatapmu
sesatku dalam kasihmu


Sejuta kata takkan pernah bisa
lisankan maksud rasaku ini


Dia mengalir dalam darahku
Dia setengah dari jiwaku
Dia bayangan atas nyawaku
Dia..


Biru, detak jantungmu membawa aku
berlayar tengah samudera cintamu
sesatku dalam kasihmu


Dia mengalir dalam darahku

Dia setengah dari jiwaku
Dia bayangan atas nyawaku


Biru, biarlah dua menjadi satu..


(Anda, 2009)

About me

My photo
Bogor, Indonesia
selamat menikmati tulisan-tulisan gw! Tips: istirahatkan sejenak kognitif kalian dan kalian akan dapat menikmati tulisan-tulisan di blog ini hanya dengan afektif kalian. Regards, ms. cloudy-sky. :)

Followers

Powered by Blogger.
 

cloudysky Design by Insight © 2009